Top 5 Motorbike Crashes Videos

Kota Solo Full Hot Spot City Walk

Tambah lagi kisah sukses terobosan Pak Wali Kota Solo dalam membangun Kota Solo. Yang sudah jelas kita nikmati adalah penataan kawasan Stadiun Manahan dan Pasar Oprokan sehingga pedangang kaki lima yang biasanya nyumpel menuhin jalan kini telah direlokasi tanpa gejolak. Kemudian pembangunan konsep kuliner malam di depan PGS (Pusat Grosir Solo), Gladag yang begitu nyaman untuk wisata malam keluarga. Dan kini, konsep City Walk untuk di Jl. Slamt Riyadi akan disempurnakan dengan memberikan banyak titik hot spot, … ruarr biasa … blogger and adsenser solo bakalan bisa kopdar malam mingguan di City Walk Slamet Riyadi sambil menikmati indahnya Jl. Protokol waktu malam yang belum begitu macet ini … Salut! Dukung penuh Pak Wali !!! Ternyata untuk menciptakan keindahan kota tak harus seeprti Jl. Dago Bandung… di Kota yang panas ini pun jadi … Semoga kita bisa lekas isis-isis sambil ngenet, menimati wedang ronde di pinggiran Jl. Slamet Riyadi … 😀

Solo Pos: Kota Solo sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan yang ramai, dan saat ini terus berkembang menjadi kota dengan berbagai aktivitas berskala nasional dan internasional.

Tuntutan teknologi informasi yang berbasis Internet, mengharuskan Pemkot merespons dengan infrastruktur yang memadai. Kemudahan akses Internet bagi masyarakat menjadi sesuatu yang mesti dipikirkan.
Untuk dapat mengakses hotspot, menurut praktisi Internet dari UPT Puskom Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Ardian Prasetyawan, perangkat yang harus ada dalam laptop adalah Wifi. Setiap laptop model baru yang dijual saat ini, dipastikan sudah ada fasilitas itu.
Untuk laptop generasi lama bisa disiasati dengan perangkat tambahan. ”Cukup memberi perangkat tambahan, berupa USB wireless, yang sekarang sudah banyak dijual. Kalau sudah ditambah alat itu dan lengkap perangkatnya, laptop sudah bisa untuk mengakses hotspot,” jelasnya, ketika ditemui Espos, di kantornya.
Namun, pemilik laptop juga perlu memperhatikan hal lain yaitu apakah perangkat Wifi tersebut sudah aktif secara otomatis (plug and plat) atau harus dilakukan secara manual. Ardian mengingatkan, bila Wifi tidak aktif secara otomatis, maka harus mengaktifkan dulu perangkat ini, sesuai dengan fasilitas yang tersedia di laptop.
Bila hardware maupun software Wifi sudah aktif, selanjutnya tinggal melihat indikator penunjuk pencarian sinyal.
Untuk mendapatkan sinyal yang baik, Ardian mengatakan, tinggal melihat indikator sinyal yang tampil di layar laptop. ”Bila sinyal sudah penuh atau hampir penuh, maka akses Internet lewat hotspot bisa dilakukan dengan baik. Dari beberapa akses poin yang muncul, pilih yang sinyalnya paling bagus.”
Faktor yang membuat akses menjadi lambat atau tidak lancar, tergantung bandwidth dan jumlah pengakses hotspot. Semakin banyak pengguna dalam satu area hotspot, aksesnya menjadi lambat.
Dengan demikian ketika pemakai Internet semakin banyak, dibutuhkan titik hotspot makin banyak pula. Dalam hal ini Pemkot Solo mulai mengalokasikan anggaran Rp 400 juta dari APBD 2008 untuk pembangunan 13 titik hotspot.
Sebanyak delapan titik akan dibangun di sepanjang Jl Slamet Riyadi dari Purwosari hingga Bundaran Gladak untuk mendukung program city walk, selain itu juga di kawasan Mangkunegaran, Balekambang, Balaikota, Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) dan Terminal Tirtonadi. Kekuatan titik hotspot itu akan memiliki jangkauan sejauh 500 meter.
Melihat kondisi ini, PT Telkom Kantor Daerah Telekomunikasi (Kandatel) Solo pun memiliki inisiatif dan memberikan dukungan untuk mewujudkan Solo sebagai cyber city. Salah satu langkah awal untuk mewujudkan gagasan itu adalah dengan menggenjot penyediaan layanan hotspot untuk akses Internet di berbagai kawasan. General Manager PT Telkom Kandatel Solo, Dwi Heriyanto ketika dijumpai Espos di kantornya belum lama ini mengungkapkan, saat ini sudah terdapat 30 lokasi di Solo yang menyediakan layanan hotspot baik yang gratis maupun yang berbayar dengan menggunakan kartu iVAS.
Untuk menggairahkan masyarakat untuk membudayakan berinternet, Rabu (30/7) mendatang akan digelar browsing Internet massal di city walk Jalan Slamet Riyadi Solo. Acara yang ditargetkan masuk dalam catatan rekor Muri ini sekaligus sebagai uji coba beberapa titik hotspot yang telah dipasang oleh Telkom.
”Untuk kegiatan itu kami menyediakan 40 titik hotspot di sepanjang city walk mulai dari Hotel Arini di Purwosari hingga Gendengan,” papar Dwi. Titik-titik tersebut mampu mendukung aktivitas browsing Internet bagi ratusan orang dalam waktu bersamaan.
Dwi menambahkan, langkah Kandatel Solo dalam mewujudkan cyber city tidak akan berhenti di sini. ”Kami sudah menyiapkan berbagai program dukungan yang kami harap bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh Pemkot,” tegasnya.
Selain penyediaan hotspot gratis di kawasan ruang publik seperti city walk, TElkom juga akan mendukung agenda-agenda kota seperti penyelenggaraan Solo International Ethnic Music (SIEM) Festival bulan Agustus mendatang seperti yang sudah dilakukan tahun lalu.
Menurut Dwi, penyebaran hotspot menjadi bagian dari edukasi dan pemasyarakatan Internet. ”Pemasyarakatan Internet ini harus dimulai dari masyarakat sendiri sehingga akhirnya Internet menjadi gaya hidup atau life style sesuai cita-cita perwujudan Solo sebagai cyber city,” katanya. ”Adanya hotspot gratis membuat makin banyak orang bisa mengakses Internet,” kata Dwi.
Lantas kenapa harus di city walk? Ini karenacity walk merupakan kawasan ruang publik yang mengemban misi heritage, fun dan kowledge. ”Selain menjadi lokasi wisata budaya dan hiburan, city walk juga menjadi kawasan pengembangan pengetahuan,” kata Dwi.
Namun Dwi mengingatkan, Telkom tidak bisa bergerak sendirian. ”Butuh komitmen kuat dan partisipasi aktif dari Pemkot Solo untuk mewujudkan cyber city ini. Misalkan dalam perawatan dan pemeliharaan hotspot di ruang publik serta pemanfaatan Internet secara lebih luas untuk menunjang operasional pemerintahan,” ujar Dwi. Kalau hal ini terwujud, lanjut dia, Solo benar-benar akan menjadi kota yang unggul. – Oleh : R Bambang Aris Sasangka, Ivan Indrakesuma.

Accidental Photographed!

Pas kebetulan mampir ke kompas, ada sebuah berita foto yang menarik. Kejadinnya pas acara sosialisasi penggunaan lajur kiri oleh Satlantas Poltabes Pontianak. Tidak diberitakan secara jelas bagaimana kejadiannya, tapi foto ini sepertinya tak sengaja ‘tertangkap kamera’ saat sang wartawan ada di tempat. Kejadian ngglangsar seperti ini kah cuma kejadian bbrp detik saja, makanya saya sebut ini tak sengaja. Kalo harus nyalain kamera dulu baru ambil foto, khan nggak bakalan dapet tuh wartawan. 😀 Selamat ya Om Wartawan,.. it’s a good working!

Source : Sosialisasi Lajur Kiri – KOMPAS IMAGES

Kamus:

Ngglangsar : terjungkal

Oleh2 Liburan [2] : Orang Bangka, Lebih tidak Terstrata

Nyambnung tulisan yang kemarin, …

Saya melihat di Bangka terdapat banyak sekali etnis, dan yang paling menarik, di sini bisa dibilang kampungnya etnis China. Namun saya melihat, strata sosial di sini begitu blended! Tidak seperti di kotaku, Solo, yang hampir bisa dibilang kalo orang China adalah strata pebisnis kaya. Nyaris seperti itu!

Di sini, banyak orang China yang jadi petani, kenet truk, kuli panggul pasar, jualan ikan asin, profesi-profesi yang kalo di daerah asalku dimonopoli oleh orang jawa. Hampir tak satu pun saya temua keturunan China dengan profesi itu di daerahku. Dan di sini, orang China banyak yg bicara dengan bahasa aseli mereka, namun di alin waktu mereka akan bicara dengan bahasa Bangka, faseh. Mereka nikah dengan orang aseli, tak pilih-pilih.

Bahkan, saya punya kenalan seorang pedagang oleh2 di kios depan Pasar Pagi. Logatnya aseli,..  Jawa banget! Katanya dia ketularan temen2 kostnya waktu dia kerja di perusahaan garmen di Jakarta.

Lebih Tidak Terstrata

Cerita saja,…  waktu saya datang ke nikahan temen kantor istri. Hiburan waktu itu adalah orgen tunggal, hiburan yang sangat umum untuk orang Bangka kalo punya kerja. Waktu itu penyanyi sewaan menawarkan kepada tamu-tamu siapa yang akan nyumbang lagu?! Kemudian,…  majulah seorang,..  mayan ganteng dan necis. ‘Itu OB di kantorku‘, kata Istri ..

Kemudian maju lagi seorang,..  kali ini pake Batik, Necis,…  tapi nggak jauh2 amat dengan yg pertama. Dia nyanyi 3 lagu. ‘Itu Kepala Cabang‘, kata istri ..

Hebat,..  di sini seorang OB sama PeDenya degan kepala Cabang sebuah BUMN besar! Tak pernah aku temuia hal semacam ini di Solo, kota yang terlalu terkungkung dengan hegemoni Kraton. Banyak sisi positif, tapi banyak sisi yang menjadikan kendala untuk berkembang.

Any Comment ??? Ayo dunk .. kawan Bangka …  Share di sini!!!  😀

Demi Cinta, Tak Apalah Nggak Jadi Selebrity

Awalnya gw nggak pernah mikir, berapa orang datang ke blog ini. Namun suatu hari, tak sengaja saya menambahkan beberapa artikel dalam satu hari sehingga ketika login ke wordpress.com, saya dapati bahwa saya masuk dalam fastest growing blog. Oleh karena itu, satu lagi pelajaran bahwa selain mudah mendapatkan PR dengan free wordpress.com blog, maka juga mudah mendapatkan popularitas. Tentu saja ini karena sistem universal tagging, searching, ranking (berdasarkan popularitas blog dan post) di main dashborad-nya wordpress.com.

Eksperimen berikutnya adalah dengan memposting suatu topik yang lagi hangat, saya pilih kasus Video Gank Nero untuk eksperiment ini. Berhasil! It’s working very well!. kemudian, kebetulan sekali ada kasus lokal yang sebenarnya memalukan untuk saya besar2kan di blog ini, kasus perbudakan seks oleh mahasiswa UNS (sungguh sebenarnya saya risih untuk mempostingnya). And It’s working too !. Dari dua kali eksperiment itu, saya yakin betul bagaimana caranya kalo sekedar mencari popularitas dalam jaringan blog gratisan di wordpress.com.

Untuk lebih lengkapnya, mari kita lihat grAfik trafik blog ini dalam beberapa hari terakhir ini:

Baca lebih lanjut

Have I Had Lost My Heritage Culture?

Buanyak sekali hal menarik dari kotaku untuk diceritakan, setiap kali jalan – baik jalan-jalan maupun jalan betulan – kemudian ketemu hal menarik, pengin rasanya untuk menuliskannya kemudain di posting di blog ini. Tapi apa daya, malas dan kesibukan lain ternyata menyebabkan suatu hal yang menarik dan sudah di shoot harus mengendap begitu saja di hardisk yang emmang sudah penuh sesak hampir nggak ada lagi space kosong lagi.

Sebagai contohnya, sekitar sebulan lalu sempat ke kondangan nikah tetangga. Karena memang desa kami masih kental dengan budaya Jawa, acara hiburan pada hari malam itu adalah gamelan live plus sindennya. Ada yang aneh? Ya,.. satu dari keempat sinden yang tampil ternyata bukan orang Jawa. Bukan sekdar bukan orang Jawa, tapi bule Honggaria. Padahal, sepengamatanku kecintaan orang Jawa dengan budaya gamelan itu sendiri sudah semakin luntur. Generasi sekarang lebih suka dengan lagu-lagu modern mulai dari dangdut, pop, RnB, and so on. Siapa yang masih mau lihat Pak Mantep ndalang? Nggak ada! Yang sekarang jadi idola adalah Samson, Peterpan, Nidji yang keriting suka lincak-lincak itu, apa lagi kalo yang bahenol macam Krisdayanti, Julia Perez, dan sebagainya.

Padahal, fenomena sinden bule ini bukan satu-satunya yang gw lihat. Kemaren pas acara wayangan Dies Natalis UNS 32, ada juga orang bulenya. Ternayat dia bukan cuma pintar nyinden (ngerti slendro pelog dan segainya yg gw nggak kenal) tapi juga pandai ngobrol dengan Bahasa Jawa kromo inggil dengan sangta halus. Ck ck kc …