Oleh2 Liburan [2] : Orang Bangka, Lebih tidak Terstrata

Nyambnung tulisan yang kemarin, …

Saya melihat di Bangka terdapat banyak sekali etnis, dan yang paling menarik, di sini bisa dibilang kampungnya etnis China. Namun saya melihat, strata sosial di sini begitu blended! Tidak seperti di kotaku, Solo, yang hampir bisa dibilang kalo orang China adalah strata pebisnis kaya. Nyaris seperti itu!

Di sini, banyak orang China yang jadi petani, kenet truk, kuli panggul pasar, jualan ikan asin, profesi-profesi yang kalo di daerah asalku dimonopoli oleh orang jawa. Hampir tak satu pun saya temua keturunan China dengan profesi itu di daerahku. Dan di sini, orang China banyak yg bicara dengan bahasa aseli mereka, namun di alin waktu mereka akan bicara dengan bahasa Bangka, faseh. Mereka nikah dengan orang aseli, tak pilih-pilih.

Bahkan, saya punya kenalan seorang pedagang oleh2 di kios depan Pasar Pagi. Logatnya aseli,..  Jawa banget! Katanya dia ketularan temen2 kostnya waktu dia kerja di perusahaan garmen di Jakarta.

Lebih Tidak Terstrata

Cerita saja,…  waktu saya datang ke nikahan temen kantor istri. Hiburan waktu itu adalah orgen tunggal, hiburan yang sangat umum untuk orang Bangka kalo punya kerja. Waktu itu penyanyi sewaan menawarkan kepada tamu-tamu siapa yang akan nyumbang lagu?! Kemudian,…  majulah seorang,..  mayan ganteng dan necis. ‘Itu OB di kantorku‘, kata Istri ..

Kemudian maju lagi seorang,..  kali ini pake Batik, Necis,…  tapi nggak jauh2 amat dengan yg pertama. Dia nyanyi 3 lagu. ‘Itu Kepala Cabang‘, kata istri ..

Hebat,..  di sini seorang OB sama PeDenya degan kepala Cabang sebuah BUMN besar! Tak pernah aku temuia hal semacam ini di Solo, kota yang terlalu terkungkung dengan hegemoni Kraton. Banyak sisi positif, tapi banyak sisi yang menjadikan kendala untuk berkembang.

Any Comment ??? Ayo dunk .. kawan Bangka …  Share di sini!!!  😀

Iklan

5 Tanggapan

  1. wah dah pulang liburan nie pak, oleh-oleh buat mahasiswa mana nie,, hehe 😀

  2. link blog ini sudah saya pasang di blog saya, minta di blogroll ya pak..

  3. Dari cerita yang saya tahu, orang keturunan Tiong Hoa di Bangka dulu dibawa oleh penjajah belanda untuk menjadi buruh tambang timah, jadi mereka adalah kelas pekerja atau buruh yg merantau bukan atas kehendak sendiri. Sementara etnis Tiong Hoa di daerah lain tempat adalah kelas pedangang yang merantau atas pilihan sendiri.

    Jadi masuk akal kalau etnis tiong hoa di bangka lebih bisa membaur dengan penduduk setempat dibanding kelas pedagang yang lebih tinggi yang ada di daerah lain

  4. Sudah axioma kalau miskin mau tidak mau mesti bisa membaur kalau mau survive. Gejala yang sama tampak di Kalimantan Barat di mana banyak warga Cin yang jadi tukang aspal jalan dan berkebun sayur.

    Penyakitnya kalau sudah kaya suka pamer dan eksklusif. Semacam kacang lupa kulitnya. Tetapi memang gejala itu kurang tampak di Bangka. Pergaulan antar kawan baik kaya maupun miskin, Melayu atau Cin sangat akrab tanpa terlalu membeda-bedakan SARA.

    Maka kata mantan Gubernur periode sebelumnya: Fan Ngin Thong Ngin Jit Yong yang berati Melayu dan Cin satu rupa [alias sama saja].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: